Minggu lalu gue bangun jam lima pagi gara-gara suara air deras di depan gang. Ternyata hujan semalaman bikin saluran air komplek meluap. Yang bikin gue langsung melek bukan airnya, tapi suara anak gue batuk-batuk di kamar sebelah. Dua jam kemudian, badannya panas. Panik? Iya. Tapi kepanikan itu yang akhirnya bikin gue belajar banyak soal menghadapi situasi kayak gini di kota besar.
Kejadian itu bukan cerita unik, sih. Tiap musim hujan, grup WhatsApp warga komplek selalu ramai dengan kabar banjir, genangan, dan anak-anak yang tumbang. Bagi keluarga kecil kayak gue yang tinggal di rumah petak sempit dengan dua anak balita, banjir bukan cuma soal air masuk rumah. Ada urusan lain yang lebih ribet: air bersih, sanitasi, dan kesehatan anak.
Kenapa Anak Gampang Sakit Saat Banjir?
Gue sempat tanya ke dokter langganan, dan jawabannya cukup masuk akal. Saat banjir, sumber air bersih bisa terkontaminasi. Bakteri kayak E. coli dan kuman penyebab diare gampang nyebar lewat genangan. Anak-anak paling rentan karena sistem imun mereka belum matang, plus kebiasaan tangan masuk mulut masih tinggi.
Baca juga: Honda Click 125 Kamboja Tampil Lebih Ganteng, Ungguli Vario 125 Indonesia
Belum lagi soal suhu. Rumah yang lembap bikin anak gampang kedinginan, dan kalau daya tahan tubuh lagi drop, virus flu atau demam berdarah tinggal nunggu waktu. Nyamuk Aedes aegypti suka banget genangan air bersih yang nggak mengalir. Jadi kombinasi banjir plus nyamuk itu bukan kombinasi yang bersahabat buat balita.
Yang sering kelewat: orang tua fokus bersihin rumah, tapi lupa cek suhu anak dan kualitas air minum. Padahal dua hal itu yang paling nentuin anak bakal sakit atau nggak.
Langkah Praktis yang Gue Lakuin Sendiri
Setelah kejadian minggu lalu, gue bikin semacam checklist kecil yang gue tempel di pintu kulkas. Nggak muluk-muluk, tapi lumayan ngebantu biar nggak panik.
Sebelum air masuk rumah
- Siapkan air bersih cadangan. Gue selalu simpan dua galon air minum plus satu ember air bersih buat cuci tangan. Kalau banjir datang, air PDAM biasanya ikut bermasalah.
- Angkat barang elektronik dan dokumen penting. Termasuk buku KIA anak, karena itu sering dibutuhkan kalau harus ke puskesmas.
- Siapkan kotak P3K mini. Isinya termometer, oralit, paracetamol anak, plester, dan antiseptik. Simpan di tempat tinggi.
Saat banjir berlangsung
- Jangan biarkan anak main air genangan. Sekecil apa pun genangannya. Kuman dan benda tajam bisa ada di mana saja.
- Cuci tangan pakai sabun sebelum makan. Kalau air terbatas, pakai hand sanitizer sebagai cadangan.
- Pantau suhu anak tiap 4 jam. Kalau demam naik di atas 38,5 derajat Celsius dan nggak turun setelah paracetamol, langsung ke fasilitas kesehatan terdekat.
Soal Demam: Kapan Cukup di Rumah, Kapan Harus ke Dokter?
Ini bagian yang paling sering bikin gue galau. Berdasarkan pengalaman dan saran dokter, demam ringan (37,5–38 derajat) pada anak yang masih aktif dan mau makan biasanya bisa ditangani di rumah. Kasih banyak cairan, kompres hangat, dan pastikan anak istirahat.
Tapi ada tanda-tanda yang nggak boleh diabaikan. Kalau anak lemas banget, nggak mau minum, muntah terus, kejang, atau muncul bintik merah di kulit, itu alarm buat segera ke dokter. Jangan tunggu sampai pagi kalau kejadiannya tengah malam. Di kota besar, setidaknya ada puskesmas atau klinik 24 jam yang bisa dituju.
Gue juga belajar satu hal: jangan googling gejala tengah malam sambil panik. Percaya sama insting orang tua, tapi tetap dasari dengan pengamatan yang tenang. Catat suhu, catat jam minum obat, catat perubahan perilaku anak. Informasi ini bakal sangat membantu dokter nanti.
Jaga Kesehatan Mental Orang Tua Juga
Ini yang sering dilupakan. Banjir bikin stres, kelelahan, dan kadang bikin kita lupa makan atau istirahat. Padahal kalau orang tua tumbang, siapa yang jaga anak? Jadi gue selalu ingat pesan istri: bergantian jaga anak, jangan dua-duanya kelelahan di saat yang sama.
Kalau punya tetangga atau keluarga dekat, jangan ragu minta bantuan. Minta tolong beliin obat, titip anak sebentar, atau sekadar bagi info. Komunitas di sekitar rumah sering kali jadi penyelamat saat situasi darurat kayak gini. Di komplek gue, ada grup kecil yang saling kabari kalau ada air bersih atau posko kesehatan terdekat.
Buat keluarga kecil di kota besar, kesiapan menghadapi banjir bukan soal punya perahu karet atau genset mahal. Cukup persiapan sederhana, komunikasi yang baik antaranggota keluarga, dan tahu ke mana harus mencari bantuan. Itu sudah cukup bikin kita lebih tenang saat air mulai naik.
Kalau kamu tinggal di daerah rawan banjir, coba deh mulai bikin checklist kecil hari ini. Nggak perlu nunggu musim hujan datang lagi. Karena saat air sudah masuk rumah, yang kita butuh bukan teori, tapi langkah yang sudah terlatih.